Senin, 26 Agustus 2013

[ Tugas ] Resume Kegiatan OSKM 24 Agustus 2013 - Kevin Wibowo


Sabtu, 24 Agustus 2013

Hari terakhir pada OSKM 2013 ini saya sambut dengan gembira, saya datang pagi hari dengan semangat pagi langsung menuju lapangan sipil. Disana berjejer kakak-kakak taplok beserta panji-panji mereka yang meriah. Menambah semangat kami semua di pagi ini tentunya. Setelah semua hadir, kami dibagi per agama masing-masing untuk mengikuti materi tentang Visi Berdasarkan Ketuhanan. Saya sendiri mengikuti materi bersama Keluarga Mahasiswa Katolik basis 2 bersama Kak Shieren dan Kak Kristianto. Setelah pembawaan materi, kami membuat visi dan menceritakan visi kami masing-masing.

Lalu kami kembali dimobilisasi ke taman Masjid Salman. Disana kembali kami diberikan materi tentang Urgen Kemahasiswaan dan Falsafah Kemahasiswaan. Saat kami sedang dijelaskan tentang materi tersebut oleh kakak-kakak taplok, datanglah seorang yang memakai jaket almamater. Ternyata dia adalah Kak Krisna, seorang mahasiswa tingkat 4 dari prodi Arsitektur. Dia menjelaskan kembali materi tadi tentang Kemahasiswaan. Dengan berbagai slide show ia mengulang kembali materi tadi.

Materi kami hari ini selesai dan kami ditugasi untuk melakukan observasi tentang berbagai masalah yang terdapat pada lingkungan sekitar kami. Observasi ini berguna untuk mengetahui apakah kami sudah mengerti materi K3 kami dengan baik. Observasi kami lakukan di Jalan Cihampelas. Kami membahas tentang infrastruktur yang terdapat di jalan tersebut dan apa pendapat masyarakat sekitar tentang infrastruktur jalan itu. Narasumber yang kami wawancarai adalah seorang pedagang kaki lima, dua orang pejalan kaki, dan seorang tukang parkir yang bertugas disana.

Setelah tugas observasi ini selesai, kami kembali ke ITB dan langsung kembali ke lapangan SR. Dimana saat saya datang sudah banyak kelompok lain yang berkumpul. Kami kembali dibuat kaget dengan kedatangan massa kampus yang memberikan berbagai pertanyaan tentang materi yang telah kami terima sebelumnya. Sungguh situasi yang menegangkan karena massa kampus meneriaki kami saat kami menjawab ataupun ditanya. Interaksi dengan massa kampus ini dipimpin oleh satu orang moderator.

Selesainya berbagai pertanyaan dari massa kampus, kami dimobilisasi kembali menuju Saraga. Di Saraga inilah closing OSKM diadakan. Dibukanya closing OSKM ini dengan tarian daerah dan cerita yang membuat kami semua tegang tentunya. Setelah tarian dan drama dimainkan, masuklah 3 orang Trihita Karana yang memberikan nasihat pada kami. Dilanjutkan dengan masuknya Presiden KM-ITB  Kak Nyoman Anjani yang memberikan sebuah pidato. Ternyata disana hadir Rektor ITB yaitu Prof. Akhmaloka dan kembali ia memberikan pidatonya yang memotivasi kami.


Acara OSKM ini lalu ditutup dengan diterbangkannya balon-balon dengan berbagai warna dan lampu yang dipasang di setiap balon tersebut ke langit. Di kejauhan balon-balon itu tampak seperti bintang warna warni. Malam itu sungguh indah dan merupakan sebuah pengalaman berharga buat hidup saya. :)

[ Tugas ] Resume OSKM 24 Agustus 2013 - Valenikhe F.

Hari ini adalah hari terakhir OSKM 2013. Hari ini kita diwajibkan berkumpul di lapangan SR pada pukul 06.20. Setelah berkumpul kita semua di mobilisasi untuk mendapatkan mentoring agama. Dalam mentoring agama ini kita mendapatkan pertanyaan yang sedikit absurd. Yaitu tentang kepercayaan terhadap tuhan masing masing. Dari mentpring agama ini saya menjadi lebih percaya akan tuhan saya dan membuat saya yakin apa yang saya lakukan seharusnya untuk tuhan saya.Setelah kitu kami semua di mobilisasi lagi untuk mendapatkan materi tentang kemahasiswaan. Ttapi pada saat ini saya dipanghil lk untuk melaksanakan wawancara. Oleh karena itu saya tidak mengikuti materi ini.

Setelah saya selalesai wawancara sekitar pukul 15.00, saya kembali bergabung dengan kelompom saya. Tidak lama kemudian datanglah kakak kakak dari berbagai himpunan memberikan pertanyaan kepada beberapa kelompok yang ada di lapangan itu. Suasana cukup tegang karena kakak kakak himpunan memberikan pertanyaan dengan suara yang lantang.Setelah melewati suasana tegang tersebut, kita semua di mobilsasi untuk melaksanakan shalat magrib dan kemudian menuju saraga. Di saraga, kami disambut dengan penampilan yang cukup membuat saya tercengang. Dala penampilan itu menceritakan keadaan bumi yang berubah dari dulu hingga sekarang. Saya sangat terpukau dengan penampilang tersebut. Penutupan OSKM 2013 itu diisi dengan sangat meriah dan diakhiri dengan pelepasan balon gas yabg berhiaskan cahaya di dalamnya.Selesai sudah OSKM 2013 ini semoga bermanfaat dan terimakasih untuk kakak kakak panitia yang sudah menjadikan OSKM 2013 ini sangat berkesan.

Valenikhe F. N.

Minggu, 25 Agustus 2013

[ Tugas ] Resume OSKM 24 Agustus 2013 - Nitis Surti Rumingkang

Sabtu, 24 Agustus. Hari yang sepertinya penuh dengan kejutan, gembar gembor euforia hari penutupan OSKM telah tersebar sejak hari-hari sebelumnya.

Pagi ini kami berkumpul di lapangan sipil, dan kami wanita muslim kemudian dimobilisasi menuju lapangan SR. Disana kami dibagi ke dalam beberapa kelompok mentoring. Kelompok saya ditemani Kak Zahrina, Teknik Tenaga Listrik 2010. Dengan tutur katanya yang halus, beliau memberikan materi mengenai visi hidup berdasarkan ketuhanan. Diawali dengan analogi sederhana jatuhnya dedaunan dari pohon disekeliling kita. Siapa yang mengaturnya? Kak Zahrina bertanya satu persatu pada kami apa cita-cita kami. Kemudian beliau bertanya mengapa kita percaya pada ajaran agama Islam. Saya pribadi menganggap bahwa agama yang saya yakini benar karena semua hal yang terjadi sudah secara detail dijelaskan dalam satu kitab suci, Al-Quran. Perbincangan dilanjutkan dengan interaksi kami dan Zahrina yag membahas tentang ketuhanan. Sampai akhirnya kami dapat menyimpulkan bahwa setiap visi hidup yang kami miliki harus sejalan dengan ajaran-ajaran Tuhan, dengan terlebih dahulu meyakini dengan sepenuh hati bahwa Tuhan itu ada.

Pagi masih cerah, kami kembali dimobilisasi ke taman salman. Di bawah pepohonan yang rindang, kali ini berkumpul bersama kelompok. Setelah sejenak melakukan ice breaking, kakak-kakak taplok memulai memberikan materi. Diawali dengan materi "Pentingnya Kolaborasi" yang dikaikan dengan kegiatan sebelumnya yaitu membentuk formasi #UntukIndonesia. Dalam masa perkuliahan kolaborasi tentu akan sangat diperlukan. Mungkin suatu saat kami akan menemui beberapa konflik, maka hal yang perlu diperhatikan adalah 3 manajemen konflik, yaitu :

1. win win solution : dimana dilakukannya musyawarah untuk mengambil jalan tengah
2. lose win solution : dimana ada pihak yang mengalah dan dikalahkan
3. lose lose solution : dimana diikutsertakannya pihak ketiga sehingga tidak ada pihak yang diuntungkan

Kemudian dalam kolaborasi, tentu akan ditemui beberapa hambatan. Diantaranya :
- keahlian
- biaya
- waktu
- kompetisi
- kearifan konfensional

Materi dilanjutkan dengan "Wawasan Kebangsaan", cakupan didalamnya adalah; identitas bangsa, wujud cinta tanah air, realitas bangsa dan visi kebangsaan. Pada hal ini, kami ditekankan uuntuk benar-benar cinta tanah air.

Materi terakhir adalah "Urgensi Kemahasiswaan" yang mencakup beberapa sub judul, yaitu:

1. Falsafah Kemahasiswaan : Tridarma Perguruan Tinggi, Budaya Kampus, POPOPE (Posisi, Potensi, Peran)
2. Arah Gerak mahasiswa : Mahasiswa harus memiliki arah gerak diagonal, dapat vertikal (ke pemerintah) dan horizontal (ke masyarakat)
3. KM ITB : Kongres, tim beasiswa, MWA/WM, HMJ, Unit

Ke tiga materi tersebut sebenarnya dijelaskan secara rinci oleh kakak-kakak taplo, kemudian dipertegas oleh Kak Kresno dari Aristektur.


Setelah break isoma, kami diberi tugas untuk observasi ke jalan Cihampelas. Panas terik dan ransel yang bergitu berat tak menggerus semangat kami. Kembali kami meninjau suatu masalah dari segi PESTEL dan kami sempat mewawancarai beberapa narasumber.

Tugas observasi selesai, kami kembali dikumpulkan di lapangan SR. Kali ini massa kampus akan mengevaluasi seluruh materi yang kami dapat. Evaluasi ini berjalan sedikit panas karena hentakkan massa kampus pada kami. Tapi maba 2013 tak pernah buntu untuk menjawab.

from Twitter @oskm2013


Saat langit mulai jingga, kami dimobolisasi ke saraga, disana tampak banyak keunikan. Panggung mewah lengkap dengan ornamen tradisional, wayang kulit yang begitu memikat, gunukan sesuatu yang sangat membuat penasaran. Pertunjukan dimulai dengan teater tentang pemberian pusaka kepada maba 2013 yang sangat memukau. dilanjutakan dengan sambutan dan orasi, dan menyanyikan lagu mentari yang begitu menyentuh hati. Acara ini diakhiri dengan pelepasan balon-balon berwarna-warni. Malam minggu ini, langit Bandung dihiasi bintang penuh warna.

from Twitter @farah_fadh


Selesai sudah serangkaian acara OSKM ini. Begitu banyak manfaat yang dirasakan. Semoga dengan berakhirnya acara ini, berakhir pula kekanak kanakan putih abu kami. Dan kami akan siap untuk giat menuntut ilmu di kampus ganesa ini #UntukIndonesia yang lebih baik.

Terimakasih pada seluruh panitia dan massa kampus yang membuat acara ini berjalan dengan baik dan menorehkan banyak kesan baik pada diri kami.

[ Tugas ] Resume OSKM 24 Agustus 2013 - Jaya Yosnanda

24 Agustus 2013, tepat pukul 6.20 kami angkatan 2013 berkumpul di lapangan sipil institut teknologi Bandung. Kegiatan pertama kami adalah mentoring agama, saat mentoring agama kami mendapat pengetahuan mengenai visi seorang mahasiswa dalam ketuhanan yang maha esa. Disana kami mendapat berbagaia mecam pelajaran, mengenai visi kehidupan mahasiswa, dan lain-lain.

Setelah itu, agenda kami yang selanjutnya adalah pengarahan pengetahuan mengenai arti kolaborasi. Pada kesempatan kali ini kami banyak sekali mendapat pelajaran mengenai falsafah mahasiswa, budaya-budaya kampus, bagaimana mana posisi, potensi dan peran mahasiswa ditengah-tengah masyarakt luas.

Selanjutnya kami segera observasi ke tempat-tempat dimana terdapat permasalahan untuk mempraktikan apa yang telah kami pelajari. Kelompok kami kebagian di daerah cihampelas. Disana kami menemukan bahwa kurangnya kesadaran para pedagang dalam memakai fasilitas infrastruktur yang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Disana kami mewawancarai pedagang, pejalan kaki, para tukang ojeg, dan lain-lain. Kesimpulannya adalah bahwa para pedagang kami lima khususnya yang berjualan di trotoar mereka sangat mengganggu pejalan kaki, dimana seharusnya trotoar ialah hak dari pejalan kaki itu sendiri.

Setelah observasi kami kembali ke kampus tercinta kami, disana kami diberi pertanyaan-pertanyaan oleh para masa kampus. Masa kampus itu sendiri terdiri dari beberapa himpunan. Disini kami diberi pelajaran bahwa mahasiswa mempunyai pertanggungjawaban yang sangat berat. Mereka juga mengevaluasi kami mengenai hal apa saja yang telah kami dapat setelah proses OSKM berlangsung. Tiba di akhir acara, penutupan acaranya luar biasa. Dimulai dengan pertunjukan wayang-wayang dan teaterikal mengenai kearifan lokal. Acara berlangsung meriah meskipun kami terasa lelah, tapi kami tetap semangat. Karena kami tahu, panitia sudah menyiapkan suatu hal yang terbaik untuk kami. Menurut saya acara OSKM kali ini sangat berhasil, bisa dilihat dari kinerja para panitia di lapangan mau pada saat acara berlangsung.

Terima kasih panitia OSKM!

#UNTUKINDONESIA

[ Tugas ] Resume OSKM 24 Agustus 2013 - M Sukma Alam

24 Agustus 2013, tidak terasa sudah hari terakhir OSKM. Sekitar pukul 6.20 kami berkumpul di lapangan sipil sebelum dibagi menurut agama masing-masing. Dalam forum agama kami belajar tentang membuat visi yang harus berlandaskan ketuhanan. Kami juga sharing pengalaman keagamaaan. Serta menambah dan memperdalam lmu agama kami. Setelah itu kamimobilisasi untuk berkumpul bersama taplok kelompok masing masing. Berkumpul bersama taplok.Kami belajar tentang materi kolaborasi, visi kebangsaan, dan urgensi kemahasiswaan.

Setelah itu, kami istirahat,shalat,dan makan. Waktu makan pun selesai kami bersiap untuk observasi maslah yang ada di sekitar. Dan kelompok kami mendapatkan oservasi di daerah Cihampelas. Sampai di tempat tujuan kami diahruskan mencari masalah yang terdapat pada daerah sekitar Cihampelas tersebut. Setelah diselediki kami mendapatkan bahwa masalahnya yaitu pada trotoar, keamanan, dan kenyamanan pejalan kaki. Kami melihat trotoar yang rusak dan belum diperbaiki, motor yang parkir dan melewati trotoar, pedagang, serta sampah yang berserakan. Setelah dibagi kelompok kecil.

Kelompok saya mendapat bagian mewawancara pejalan kaki. Sedangkan kelompok lain pedagang dan tukang parkir. Setelah menerima penolakan dari beberapa pejalan, akhirnya kami mendapat seseorang yang bersedia diwawancara. Ia mengutarakan bahwa dengan adanya pedagang dan motor yang diparkir sembarangan sedikit mengganggu pejalan kaki. Setelah menanyakan tentang kerja dan saran pemerintah tentang trotoar tersebut. Kami mendapat jawaban yang cukup memuaskan. Setelah itu kami kembali ke kampus tercinta. Disana kami mobilisasi untuk menunaikan shalat ashar terlebih dahulu. Setelah itu terdapat evaluasi dari materi-materi yang dilakukan oleh massa kampus. Saya pribadi cukup takjub dengan jawaban dan tanggapan kawan-kawan saya.

Sesi evaluasi pun selesai. Kami menunaikan shalat maghrib sebelum akhirnya dimobilisasi menuju saraga. Disana kami menyaksikan closing OSKM yang begitu megahnya. Tidak ketinggalan sambutan dari ketua cabinet dan rector ITB. Sekitar pukul 09.30, acara OSKM pun selesai. Rasanya cepat sekali OSKM ini, banyak sekali hal yang bias dipetik dari oskm ini.

[ Tugas ] Resume OSKM 24 Agustus 2013 - Raden Ryan Gifari

Sabtu, 24 Agustus 2013

Saya datang di daerah ITB sekitar jam 6, saya merasa ngantuk karena kurang tidur, tapi saya harus semangat karena ini hari terakhir OSKM. Saya berkumpul dengan kelompok 112 di lapangan sipil. Setelah lama menunggu, acara dimulai dengan mentoring agama yang membahas mengenai bagaimana cara membuat visi berdasarkan asas ketuhanan. Kami dipisahkan sesuai dengan agama dan kepercayaan kami masing-masing, kebetulan saya kebagian tempat di lapangan sipil juga. Setelah mentoring agama selesai kami dimobilisasi menuju lapangan SR. Setelah kami semua berkumpul kelompok 112 beserta kelompok lain dimobilisasi menuju taman ganesha dekat dengan masjid salman.

Di sana, kami mendapat materi mengenai kolaborasi, wawasan kebangsaan, dan urgensi kemahasiswaan yang mencakup penjelasan mengenai KM-ITB, MWA-WM, dan TIM BEASISWA ITB. Pada saat materi urgensi, Kak Kresno dari unit LFM ikut menjelaskan dengan cara yang menarik, sehingga yang awalnya saya ngantuk langsung fresh kembali. Setelah penjelasan, ada beberapa icebreaking yang cukup menarik dan saya tidak bisa memecahkannya. Selanjutnya acara dilanjutkan ISOMA dan setelah kelompok kami berkumpul kami ditugaskan untuk observasi mengenai masalah yang menyangkut pola pikir K-3 dan PESTEL di daerah Cihampelas, cukup dekat dengan ITB. Kami dibagi menjadi 3 kelompok dengan tujuan memudahkan observasi.

Pada awalnya kami sulit untuk mengobservasi hal apa, setelah lama berjalan menuju daerah CIWALK kami putuskan untuk mengambil hal berupa fasilitas pejalan kaki yang sudah tak nyaman. Saya dan teman-teman saya yang tergabung dalam kelompok 2, ditugaskan untuk mewawancarai tukang parkir. Untungnya kami cukup mudah untuk mendapatkan narasumbernya dan enak dalam mewawancarainya. Setelah itu kami berkumpul lagi dengan kelompok lain dan memutuskan kembali ke ITB karena waktu yang semakin tipis.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan salat ashar dan diskusi dengan massa kampus. Saya sempat tegang karena massa kampusnya terlihat tegas, salah sedikit sudah dihujani perkataan yang waw lah. Setelah acara diskusi selesai kami dimobilisasi menuju lapangan parkir utara untuk salat magrib dan selanjutnya kami dimobilisasi lagi menuju SARAGA untuk acara closing OSKM. Acara sangat menarik, ada wayang dan cerita yang mengingatkan kita untuk tetap kembali ke tanah air ketika sudah sukses. Acara ini pun ditutup oleh Kak Nyoman Anjani selaku Presiden KM-ITB dan Bapak Akhmaloka selaku Rektor ITB. Ya OSKM ITB berakhir tetapi sangat membekas di hati saya dan semoga kelompok 112 tetap yang terbaik!

By : Raden Ryan Gifari

[ Tugas ] Resume OSKM 24 Agustus 2013 - Revie Marthensa

Pagi hari cerah kembali kami rasakan di hari yang baru. Mungkin hari ini adalah salah satu hari yang perlu tandai dalam perjalanan hidup kami karena hari ini kami akan menyelesaikan masa OSKM kami. Seperti biasa, kami datang pagi hari ke kampus ITB. Pukul 06.20 kami sudah harus tiba di lapangan dekat gedung Teknik Sipil. Dan saat kami tiba, kami sudah disambut oleh para kakak taplok yang sudah menunggu kami di lapangan itu.

Setelah kami menunggu teman-teman kami satu angkatan datang, kami dimobilisasi menuju ke unit agama kami masing-masing. Saya bergabung dengan unit agama saya yaitu Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) di sekitar labtek VII dan GKU Timur. Di sana kami berkumpul kami di basis kami masing-masing bersama orang tua basis kami.

Di dalam basis, kami berbincang-bincang, diskusi bersama, bermain tebak-tebakan bersama, dan juga menerima materi OSKM yang baru, yaitu tentang visi hidup. Inti dari materi ini adalah ketika kita membuat sebuah visi, visi yang kita buat harus berdasarkan prinsip ketuhanan dan kebebasan substansial. Prinsip ketuhanan dalam hal ini adalah kasih, pelayanan, pengorbanan, dan kita harus mengenal rencana Tuhan ke depan untuk hidup kita yang sudah pasti itu adalah jalan yang terbaik untuk kita. Sedangkan kebebasan substansial pada prinsipnya adalah kebebasan yang bertanggung jawab dan tidak melanggar HAM. Di akhir sesi kami bersama-sama membuat visi hidup kami berdasarkan materi yang sudah kami terima, dan juga berdasarkan metode SMART, yaitu spesific, measurable, action-oriented, realistic, dan time-bound.

Setelah berkumpul dengan unit agama, kami kembali berkumpul kembali bersama kelompok OSKM kami, dan bersama taplok kelompok kami tentunya. Kami berkumpul di sisi barat masjid Salman. Di sana kami kembali menerima materi baru OSKM. Materi yang pertama adalah mengenai kolaborasi. Kolaborasi adalah hal yang sangat penting dalam hidup kita, baik hidup di dalam kampus maupun hidup dalam masyarakat umum. Di dalam kolaborasi, pasti diperlukan suatu diskusi, dan di dalam diskusi, sudah pasti ada yang namanya konflik atau perbedaan pendapat. Tapi ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memanajemen konflik-konflik tersebut, yakni metode lose-lose, lose-win, dan win-win. Dan metode yang tebaik adalah metode win-win, karena dengan metode ini, kedua pihak yang berbeda pendapat tidak ada yang dikalahkan. Dengan kata lain, kedua pihak ini “menang”. Cara yang terbaik adalah dengan musyawarah. Dengan musyawarah, kita bisa mengambil jalan tengah dari kedua pendapat yang berbeda.

Materi yang kedua adalah mengenai wawasan kebangsaan. Poin-poin penting dalam materi ini adalah tentang identitas bangsa, cinta tanah air, realitas bangsa, dan visi kebangsaan. Kita mencintai tanah air kita karena kita lahir dan dibesarkan di tempat ini. Namun kita tahu bahwa negeri ini bukanlah negeri yang sempurna. Tapi kita tetap harus mencintai negeri ini, bahkan kitalah yang harus mengubah negeri ini untuk menjadi semakin sempurna.

Materi yang terakhir adalah mengenai urgensi kemahasiswaan. Urgensi kemahasiswa dibagi menjadi tiga poin penting, yaitu falsafah kemahasiswaan, arah gerak mahasiswa, dan KM ITB. Falsafah kemahasiswaan ada tiga, yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri dari penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, kedua adalah budaya kampus seperti integritas akademik, wawasan kebangsaan, peduli lingkungan, inovasi, kewirausahaan, dekat dengan masyarakat dan alam, berjiwa pemimpin, budaya menulis, apresiasi, dan diskusi, dan yang ketiga adalah popope, yaitu posisi, potensi, dan peran mahasiswa. Posisi mahasiswa adalah sebagai masyarakat sipil yang berpendidikan. Potensi mahasiswa adalah sifat kritis, idelis, mandiri, semangat, wawasan dan jaringan yang luas, dan multidisiplin ilmu. Dan peran mahasiswa adalah sebagai agent of change (agen perubahan), iron stock, guardian of value, dan role model (teladan). Arah gerak mahasiswa dibagi menjadi dua, yaitu vertikal atau hubungan dengan pemerintahan, dan horizontal atau hubungan dengan masyarakat. Dan yang ketiga adalah struktur organisasi KM ITB. Badan tertinggi adalah kongres yang merupakan badan legislatif sekaligus pengawas kerja kabinet, di bawahnya terdapat kabinet yang merupakan pelaksana kebijakan, di samping kabinet terdapat tim beasiswa dan Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa (MWA-WM). Tim beasiswa mengurusi beasiswa mahasiswa, dan MWA-WM adalah penghubung antara rektorat dan mahasiswa. Di bawah kabinet terdapat himpunan mahasiswa jurusan dan unit kemahasiswaan. Setiap himpunan mengirimkan satu wakilnya untuk duduk dalam kongres.

Setelah selesai menyelesaikan materi, kami diperbolehkan istirahat dan sholat. Setelah itu kami berangkat menuju jalan Cihampelas untuk melakukan tugas observasi masalah berdasarkan metode PESTEL, yaitu politik ekonomi sosial teknologi lingkungan. Masalah yang kami pilih adalah fasilitas trotoar untuk pejalan kaki. Kami melihat trotoar di jalan Cihampelas sangat memprihatinkan. Permukaan trotoar banyak yang tidak rata, sampah sering berserakan, beberapa bagian bahkan dipakai untuk parkir motor, dan yang paling parah adalah pedagang kaki lima yang memakan tempat di trotoar jalan. Kami mewawancarai empat orang narasumber yang terdiri dari dua orang pejalan kaki, satu orang tukang parkir, dan satu orang pedagang kaki lima. Hasilnya berpendapat bahwa fasilitas pejalan kaki di Jalan Cihampelas masih kurang nyaman dan aman.

Setelah itu kami kembali ke kampus Ganesha bersama taplok kami dan melanjutkan acara dengan interaksi bersama massa kampus. Kami dikumpulkan per tiga puluh kelompok untuk melakukan interaksi. Terdapat satu orang moderator yang memimpin jalannya forum. Interaksi berjalan lancar dan menurut saya banyak hal yang saya dapat dalam interaksi ini, khususnya bahwa saya adalah salah satu dari banyak potensi muda yang dimiliki Indonesia untuk bisa memajukan negeri ini ke arah yang lebih baik.

Setelah interaksi, kami dimobilisasi ke lapangan saraga untuk melaksanakan closing OSKM. Acara diawali dengan pertunjukan wayang di atas panggung, kemudian ada prosesi penutupan OSKM berupa semacam tarian dan drama. Setelah itu kami mendengarkan pidato dari presiden kabinet yaitu Kak Nyoman Anjani, dan pidato dari rektor kami, Bapak Prof. Akhmaloka. Pada intinya pidato mereka menekankan pada hal rasa cinta tanah air. Dan acara closing ditutup dengan menerbangkan balon yang diberi lampu, sehingga balon-balon tersebut terbang sambil berkelap-kelip seperti bintang. Malam yang sangat indah dan tidak akan saya lupakan sepanjang hidup saya. Ini adalah langkah awal saya untuk berkarya di kampus ini.

Posted by: Revie Marthensa

[ Trivia ] Timeline dan Sejarah Kemahasiswaan ITB

(sumber : http://sayapbarat.wordpress.com/2008/03/03/sejarah-kemahasiswaan-itb-komplit/ dengan modifikasi)

Era Kolonial Belanda dan Jepang Terbentuk organisasi kemahasiswaan tertua di Bandung yaitu Bandoeng Studenten Corps (BSC). Pada masa ini, mahasiswa pribumi yang bersekolah di Technische Hoogeshcule te Bandoeng (TH Bandoeng) sudah merasakan perbedaan budaya dengan teman2nya yang berasal dari Belanda dan mahasiswa2 pribumi ini kemudian membentuk perkumpulan sendiri yaitu Indonesische Student Vereniging (ISV) yang terpisah dari organisasi mahasiswa resmi saat itu yang didominasi oleh tuan-tuan Belanda. Perkumpulan ini menyelenggarakan diskusi-diskusi mengenai ilmu teknik, politik, mengadakan kegiatan olahraga, bermain catur dan tak ketinggalan berdarmawisata.

Soekarno (presiden RI pertama) terdaftar sebagai mahasiswa mulai tahun 1921, tapi dua bulan kemudian meninggalkan kuliah untuk bersatu dalam perjuangan bangsanya. Baru tahun 1922 ia mendaftar kembali dan lulus tahun 1926.

TH Bandoeng sempat berganti nama di era kolonial Jepang menjadi Institute Of Tropical Sciences (1942) dan Bandung Kogyo Daigaku (1944)

Era Kemerdekaan Setelah kemerdekaan, Bandung Kogyo Daigaku dibuka kembali dengan nama Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung). Terbentuk Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Bandung. Suasana revolusi menyebabkan kampus STT Bandung mempunyai multifungsi. Gejolak bangsa saat itu membuat STT Bandung merupakan kesatuan dari potensi SDM, ilmu dan teknologi, laboratorium dan peralatan yang semuanya dikerahkan untuk perjuangan kemerdekaan. Bulan Oktober 1945 didepan anggota KNIP, dicetuskan ikrar bersama mahasiswa yang menyatakan tekad mahasiswa Indonesia untuk tidak sudi kembali ke kampus selama kemerdekaan penuh bangsa Indonesia belum tercapai.

STT Bandung kemudian pindah ke Yogyakarta untuk kemudian bergabung dengan beberapaa akademi dan sekolah tinggi membentuk Universitas Gadjah Mada.

Era 1950-an Pada masa ini, Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Bandung masih dalam naunngan Universitas Indonesia. Saat itu terbentuklah Dewan Mahasiswa UI Bandung yang beranggotakan himpunan-himpunan mahasiswa teknik. Pada tahun 1955, lahirlah Dewan Mahasiswa UI yang diketuai oleh Emil Salim yang kemudian menggabungkan DM UI Bandung yang terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas Teknik dan FIPIA.

1957 - Deklarasi pembentukan Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) di Aula Barat sebagai wadah organisasi intra universitas seluruh Indonesia.

2 Maret 1959 - Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam dipisahkan dari Universitas Indonesia menjadi Institut Teknologi Bandung.

Era 1960-an 2 November 1960 - berdasarkan persetujuan Senat Mahasiswa Departemen Ilmu Teknik, Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, serta Ilmu Kimia dan Ilmu Hayati, terbentuklah Dewan Mahasiswa ITB yang diketuai oleh Piet Corputty. Dewan Mahasiswa terdiri dari Sidang Dewan (Legislatif) dan Badan Pengurus (Eksekutif). DM ITB saat itu lebih mengutamakan konsolidasi organisasi. Namun karena adanya perjuangan membebaskan Irian Barat, maka DM ITB mendukung penuh seruan tersebut dengan ikut serta mengirimkan sukarelawan. Advokasi mahasiswa untuk menolak penggabungan ITB ke Universitas Padjajaran yang baru berdiri.

1963 - Pada kerusuhan 10 Mei 1963 yang berbau rasial, tokoh mahasiswa Muslimin Nasution. Uniknya walaupun dalam tahanan, Muslimin terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa ITB. Konfrontasi antara DM ITB dengan CGMI-GMNI yang berporos Nasakom. Saat itu DM ITB dijuluki ‘The Last Stronghold’ oleh masyarakat anti-komunis.

1964 - Pembangunan Masjid Salman dimulai. Pada Kongres MMI ke-IV di Malino, Sulsel, DM ITB dikeluarkan dan terkucil dari pergaulan antar DM. Terjadi kericuhan saat MAPRAM 1965.

1965 - Peristiwa Gerakan 30 September, DM ITB dibawah pimpinan Rachmat Witoelar menyatakan mengutuk peristiwa tersebut. Terbentuk KAMI Bandung yang tidak hanya beranggotakan organisasis ekstra kampus, namun juga organisasi intra kampus. Terbentuk juga Komite Aksi Pembersihan ITB (KAPI), yang bertujuan membersihkan ITB dari pengaruh komunis.

1966 - Perjuangan menegakkan Tritura. Pada bulan Februari 1966, KAMI Bandung dipelopori DM ITB mengirim 200 mahasiswa untuk membantu mahasiswa Jakarta yang terdesak akibat terbunuhnya Arief Rahman Hakim. Dipimpin tokoh-tokoh seperti Rudianto Ramelan, Muslimin Nasution, Arifin Panigoro, dan Fred Hehuat, KAMI Bandung melancarkan serangan-serangan ke obyek-obyek vital seperti Deplu RI, Kedubes dan Konsulat RRC.

Perjuangan Tritura menghasilkan pemerintahan baru yang lazim disebut ‘Orde Baru’. DM ITB memberikan gelar Pahlawan Ampera kepada Fred Hehuat (Geologi) dan Pasma Situmorang (Mesin) yang aktif berjuang menegakkan Tritura.

DM ITB tidak hanya berdemonstrasi untuk menumbangkan rezim Orde Lama, saat terjadi bencana banjir di Solo, DM ITB mengirim delegasi Misi Ampera untuk membantu korban bencana.

Juni 1966 - KM ITB terbentuk sebagai penyempurnaan dari DM ITB, terdiri dari MPM (legislatif), DM (eksekutif), dan BPM (perwakilan ekstra kampus).

1968 - Pernyataan sikap menolak adanya wakil-wakil mahasiswa di DPR Gotong Royong karena mahasiswa tidak sepatutnya berpolitik praktis.

1969 - Advokasi kenaikan SPP mahasiswa.

Era 1970-an 1970 - Dipelopori oleh Wimar Witoelar (Ketua Umum 1969-1970) dan Syarif Tando (Ketua Umum 1970-1971), DM ITB menyerukan slogan back to campus untuk kembali kemahasiswaan yang telah rusak akibat politik nasakom. Pendirian Student Center dimulai, Unit-Unit kegiatan bermunculan, DM ITB memelopori konsolidasi mahasiswa se-Asia Tenggara dalam pertemuan ASEAUS. DM ITB juga mengadakan pekan olahraga mahasiswa Ganesha Interversity Games. Gagalnya inisiasi National Union of Student of Indonesia dilanjutkan dengan berdirinya Badan Kerja Sama Dewan/Senat Mahasiswa se-Bandung (BKS DM/SM Bandung).

Usaha depolitisasi ini sebenarnya hampir berhasil, hanya saja pihak penguasa mulai menunjukkan gelagat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Pada tanggal 6 Oktober 1970, terjadi insiden antara taruna Akpol dengan seorang mahasiswa bernama Rene Louis Conraad (EL’70) yang mengakibatkan tewasnya Rene. Insiden ini sebenarnya berawal dari tawuran antara taruna Akpol dengan mahasiswa ITB akibat kalah dalam pertandingan sepak bola. Karena peristiwa ini, saat upacara pemakaman Rene, DM ITB mengadakan demontrasi dengan massa sepanjang 7 Km untuk menuntut pengusutan para tersangka pengeroyokan.

1971 - Protes DM ITB terhadap proyek Taman Mini Indonesia Indah.

1972 - Protes DM ITB kepada Bulog yang dianggap tidak becus mengurusi pangan.

1973 - Isu utang luar negeri yang tidak terkendali menjadi opini publik. Saat itu pengusaha Jepang dianggap Economic Animal oleh masyarakat Indonesia akibat modal mereka yang mencengkeram ekonomi nasional. Suatu pertemuan di bulan Desember 1973 di ITB yang dihadiri antara lain oleh Muslim Tampubolon (Ketua Umum DM ITB) Hariman Siregar (Ketua Umum DM UI) dan Adnan Buyung Nasution berhasil mengeluarkan sikap untuk menolak utang luar negeri.

1974 - Pertemuan 35 DM se-Indonesia tanggal 11 Januari atas undangan Hariman Siregar untuk menemui Presiden Soeharto di Bina Graha. 4 hari kemudian pecahlah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) yang pada awalnya bertujuan mendemonstrasi PM Jepang Kakuei Tanaka malah berubah menjadi huru-hara besar.

Sementara itu mahasiswa Bandung berunjuk rasa di kampus UNPAD dengan membakar patung Soedjono Hoemardani, Aspri Presiden Soeharto. Saat itu mahasiswa Bandung mengeluarkan Tritura 1974 yang berbunyi: 1. Bubarkan Aspri, 2. Turunkan Harga, 3. Tolak Utang Luar Negeri.

1974-1976 - Konsolidasi organisasi DM ITB.

1977 - Gerakan anti kebodohan, adalah suatu konsep mendasar untuk mengentaskan pembodohan penguasa terhadap rakyat Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kemahasiswaan Indonesia, Ketua Umum DM dipilih dengan sistem one student one vote secara langsung, umum, bebas, dan rahasia.

28 Oktober 1977 - DM se-Indonesia berkumpul di Bandung untuk menyatakan sikap menolak eksistensi Soeharto sebagai Presiden Indonesia. Bersama pelajar Bandung, DM se-Indonesia mengadakan aksi demonstrasi keliling Bandung.

16 Januari 1978 - Apel bersama 2000 mahasiswa ITB dipimpin Ketua Umum Heri Akhmadi menyatakan ‘Tidak Mempercayai dan Tidak Menginginkan Soeharto Kembali Sebagai Presiden Republik Indonesia!”. Penerbitan Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978. Pembuatan buku putih ini dimotori oleh Rizal Ramli, Ketua Dewan Mahasiswa. Penerbitan buku putih ini juga didukung beberapa intelektual kampus seperti Prof. Iskandar Alisjahbana (Rektor ITB) dan Prof. Slamet Iman Santoso (mantan Dekan Fakultas Psikologi UI).

21 Januari dan 9 Februari 1978 - Kampus diserbu dua kali dan diduduki militer 6 bulan lamanya. Mahasiswa lama dikumpulkan di lapangan basket dan diusir, hanya mahasiswa angkatan ’78 yang boleh berkuliah. Terjadi penembakan gelap di rumah Rektor ITB Prof. Iskandar. Laksusda Jawa Barat memanggil Heri Akhmadi, Rizal Ramli, Indro Tjahjono, Al Hilal Hamdi, dan Ramles Manampang Silalahi untuk kemudian diadili dan dipenjara. Normalisasi Kehidupan Kampus diberlakukan, DM se-Indonesia dibubarkan, pemerintah mengajukan konsep SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) sebagai pengganti Dewan Mahasiswa, namun ditolak karena terlalu kuatnya intervensi pemerintah dan birokrasi kampus pada organisasi tersebut.

1979 - Pembentukan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) sebagai organ operasional kebijakan NKK disikapi dengan penolakan mahasiswa ITB. Akibatnya lembaga ini tidak pernah jelas eksistensinya.

Era 1980-an 1979-1982 - Tekanan kuat dari Rektorat untuk membubarkan DM dengan surat ancaman DO untuk setiap Ketua Umum terpilih. Buku Biru diterbitkan sebagai lanjutan penerbitan Buku Putih.

1982 - Dipelopori oleh 22 Ketua Himpunan dan 44 Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa, Dewan Mahasiswa ITB akhirnya membubarkan diri, kaderisasi dan cita-cita DM dikembalikan ke himpunan masing-masing sebagai kantung gerakan. Suatu saat himpunan tersebut siap dipanggil untuk bersatu kembali. Forum Ketua Himpunan Jurusan (FKHJ) terbentuk sebagai wadah koordinasi gerakan antar himpunan jurusan dan Badan Koordinasi Unit Aktivitas (BKUA) terbentuk sebagai wadah koordinasi gerakan antar unit kegiatan. FKHJ dipimpin oleh Hendardi (Ketua HMS) dan Umar Juoro (Ketua HIMAFI). Pada masa ini juga muncul kelompok-kelompok studi mahasiswa.

1983 - Demonstrasi menentang rally mobil yang mewabah saat itu, karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi bangsa.

1985 - Demonstrasi menyambut PM Inggris Margareth Thatcher.

1986 - Demonstrasi menyambut Presiden Francois Mitterand dengan memotong kepala bebek sebagai perlambang agar bangsa Indonesia jangan membebek pada bangsa Barat.

1987 - Protes kepada Kedubes Perancis akibat adanya teror kelompok ‘Skinhead’ terhadap mahasiswa Indonesia. Terbentuknya Presidium FKHJ yang dpimpin oleh Hotasi Nababan, Fadjroel Rachman. Terbentuk pula Badan Koordinasi Mahasiswa Bandung sebagai wadah gerakan mahasiswa Bandung.

1988 - Mimbar bebas pada hari pahlawan, aksi anti helm, dan intifadah.

1989 - Aksi-aksi menentang pembebasan tanah dengan semena-mena di Kacapiring, Cimacan, Kedung Ombo, dan Badega. Longmarch Bandung-Badega oleh mahasiswa ITB untuk menghalangi buldoser yang akan mengeksekusi tanah Badega. Pada tanggal 5 Agustus 1989 terjadi insiden dalam acara Penataran P-4 oleh Mendagri Rudini. Saat itu beberapa mahasiswa akan menangkap Mendagri karena dianggap bertanggung jawab membawahi pemerintah lokal yang berkolusi dengan penguasa. 11 orang ditangkap dan 6 diantaranya dipenjarakan, diantaranya Fadjroel Rachman, Jumhur Hidayat, Enin Supriyanto.

Era 1990-an 1990 - Keluar surat dari Mendikbud Fuad Hasan yang meminta didirikannya SMPT di seluruh Indonesia.

1992 - OSKM diadakan kembali atas dasar permintaan Rektorat untuk melakukan penyambutan dan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru angkatan 1992. Terbentuknya Forum Aktivis Lemabaga Mahasiswa yang beranggotakan aktivis mahasiswa se-Jawa Madura dan Bali.

1993 - Referendum pembentukan Lembaga Sentral Mahasiswa.

1994 - Advokasi terhadap dua fungsionaris HMFT yaitu Yos Alfa dan Melyana (FT’90)

1995 - OSKM’95 berlangsung dengan tema ‘Pahlawan dari Rakyat yang tertindas’

20 Januari 1996 - Kongres, FKHJ dan BKSK mendeklarasikan berdirinya kembali KM ITB.

Maret 1996 - Keluar surat edaran dari PR III yang meminta nama lembaga sentral mahasiswa adalah Senat Mahasiswa ITB, yang ditanggapi dingin oleh mahasiswa. PR III yang baru mengadakan manuver dengan mengadakan registrasi terhadap seluruh organisasi mahasiswa. 5 Himpunan yaitu HIMATEK, GEA, HMT, PATRA, dan HMP disegel karena menolak registrasi. Selain itu karena terjadi kasus Zaki T.L (FI’95) yang meninggal setelah melewati OS di HIMAFI (PPAM) dan mengakibatkan sanksi DO bagi Budi (Ketua PPAM) dan Ridjal (Ketua HIMAFI), OSKM dilarang.

April 1996 - Deklarasi kesatuan gerakan mahasiswa Bandung.

1996-1997 - Berbagai forum diadakan untuk mendirikan lembaga sentral mahasiswa antara lain forum TVST, PILT, dan BPI. Tidak dihasilkan kesepakatan mengenai bentuk organisasi kemahasiswaan. Forum BPI diketuai oleh Haru Suwandharu (BI’93, Ketua HIMABIO ‘Nymphaea’). Dan Forum TVST diketuai oleh Vijaya Vitrayasa (MS’94, Kepala GAMAIS)

1998 - FKHJ membentuk Satgas KM ITB untuk Reformasi yang diketuai oleh Depi Rustiadi (TG’94) dan Widdy (PL’95) sebagai Sekjen. Satgas ini berperan penting dalam ‘Deklarasi Ciganjur’ yang menyepakati bahwa kepemimpinan nasional harus segera diganti. Dibentuk juga Tim Beasiswa KM ITB untuk melaksanakan program beasiswa dari, oleh dan untuk mahasiswa. Selain itu Muker 7-10 Juni di Ciwidey menghasilkan Konsepsi dan AD/ART KM ITB. Pemilu dilangsungkan pada bulan Oktober dan Vijaya Vitrayasa (MS’94) keluar sebagai pemenang atas Ahmad Shalahudin (TI’94), Khalid Zabidi (SR’93) dan Heldy (FT’94).

Kepengurusan periode ini juga diwarnai dengan 2 surat pernyataan himpunan ( HMT & HME ) yang yang secara meminta kongres memberikan memorandum kepada Presiden KM ITB karena kinerjanya yang dianggap tidak memuaskan. Komunikasi dengan lembaga2 kemahasiswaan di dalam kampus memang menjadi masalah terbesar yang dihadapi kabinet.

Terlalu lamanya kemahasiswaan ITB tidak dipayungi lembaga terpusat menyebabkan kurangnya rasa butuh terhadap KM ITB apalagi ditambah dengan konsepsi kemahasiswaan terpusat (Konsep KM ITB) yang tidak tersosialisasi dengan baik ke seluruh mahasiswa.

1999 - Gerakan Lumbung Kota sebagai bentuk kepedulian mahasiswa akan langkanya barang kebutuhan pokok.

Agustus 1999 - Peserta OSKM’99 melakukan aksi SINDU (Studi dan Implementasi Desa Terpadu) di Cipatat.

Oktober 1999 - Kontroversi mengenai kinerja Kabinet pertama mengakibatkan Vijay dipercepat jabatannya dan diganti Caretaker. Pemilu kedua diadakan dan menghasilkan pemenang Sigit Adi Prasetyo (IF’95) mengalahkan Nurul Wajah Mujahid (KL’95), Zaid Perdana (TL’96), Dedi Apriadi (GL’97) dan Iqbal Alfajri (DS’96) Puncaknya adalah pernyataan bersama 15 himpunan pada saat pelantikan presiden KM ITB yang kedua ( November 99) yang isinya adalah memberikan memorandum kepada kabinet untuk memperbaiki kinerjanya.

Era 2000-an Februari 2000 - Pertama kali diadakannya Olimpiade KM ITB dimana HMT keluar sebagai juara umum. Sempat terjadi insiden pembakaran jas almamater akibat adanya sponsor rokok ‘A Mild’ yang dianggap telah menjual kemahasiswaan ITB.

Agustus 2000 - OSKM kali ini adalah OSKM dengan peserta terkecil jumlahnya (400an peserta) akibat ilegal.

Oktober 2000 - Akibat terlalu larutnya Kongres dalam membahas amandemen AD/ART, panitia pelaksana Pemilu 2000 terbentuk 2 Minggu sebelum tanggal turunnya Presiden Sigit. Panpel yang dipimpin Safari (TK’97) terus mengulur-ulur waktu. 6 kandidat antara lain Zaid Perdana (TL’96), Andri Dwi Setiawan (PN’96) Muhammad Iqbal (GL’96), Muhammad Lutfi (TI96), Dedi Apriadi (GL’97) batal mengikuti pemilu. Akhirnya bulan November 2000, Kongres mengeluarkan ketetapan perpanjangan jabatan Presiden selama 6 bulan sampai Maret 2001.

Januari 2001 - KM ITB menggulirkan isu Buloggate dan Bruneigate untuk menjatuhkan Presiden Abdurrahman Wahid. Sementara itu FKHJ mulai menggulirkan isu penggulingan Presiden Sigit.

10 Maret 2001 - Dimotori oleh IMG, HIMAFI, PSIK, Veritas dan Komunitas Ganesha 10, FKHJ melakukan pendudukan terhadap Sekretariat KM ITB. FKHJ menyatakan penonaktifan Kongres dan Kabinet KM ITB serta mengambil kekuasaan legislatif dan eksekutif. Selain itu FKHJ juga membentuk tiga Badan Pekerja yaitu Panitia Pemilu untuk mengadakan pemilu legislatif secepatnya, Panitia OSKM 2001, dan Panitia Muker untuk mengamandemen AD/ART. Pemilu legislatif berhasil memilih senator berbasis massa himpunan, Kongres kali ini dipimpin oleh Dedi Suryadi (PL’97). Karena dimulainya era otonomi kampus, Kongres memutuskan mengirimkan Anggota MWA wakil mahasiswa Rian Ramadian Nugraha (IF’97).

Agustus 2001 - OSKM kali ini dipimpin Dinar Maulana (IMG’98). Sebelumnya sempat terjadi insiden pemukulan terhadap pihak yang mendiskreditkan salah seorang petinggi OSKM.

Oktober 2001 - Pemilu kali ini tercatat dalam sejarah KM ITB sebagai Pemilu dengan kandidat terbanyak (7 orang). Akbar Hanif Dawam Abdullah (PN’98) terpilih sebagai Presiden mengalahkan Dedi Apriadi (GL’97), Armenda (SI’97), Adiq Ahmadi (MT’97), Roy Baroes (GM’97), Edison Situmorang (EL’97), sedangkan Khairul Anshar (FI’98) mengundurkan diri sebelum pemungutan suara.

Desember 2001 - Pertemuan BEM se-Bandung Raya di kampus ITB.

Maret 2002 - Alga Indria (DS’98) menjadi pemenang pemilu KM ITB mengalahkan Abdi Robbi Sembada (SI’98), Dwi Lesmana (PL’99), M. Hanif (TI’98), dan Andy Hartono (TK’98).

Agustus 2002 - Setelah sekian lama, akhirnya OSKM dinyatakan legal oleh rektorat, acara Swasta ditiadakan, dan metode kekerasan diganti dengan metode disiplin. OSKM kali ini diketuai oleh Ahmad Mukhlis Firdaus (HMS’99). Selain itu pertama kali dalam sejarah KM ITB diadakan acara Open House Unit yang bertujuan membuka rekrutmen terbuka untuk Unit Kegiatan Mahasiswa.

1-2 Februari 2003 - Pertemuan BEM Nasional di ITB.

Maret 2003 - Ahmad Mustofa (TK’99) menjadi Presiden kelima mengalahkan Saifullah (SI’99), dan Hendro (TA’99). Sementara itu Adi Nugroho (FI’99) mengundurkan diri sebelum pemungutan suara. Pemilu Anggota MWA Wakil Mahasiswa menghasilkan Fantri Azhari (MS’99) sebagai pemenang.

Mei 2003 - Aksi long march Bandung-Jakarta untuk memperingati 5 tahun reformasi.

Juni 2003 - Aksi penolakan USM-PMBP yang dianggap sebagai jalan komersialisasi kampus. Saat itu terbentang spanduk ‘Selamat Datang Putra-Putri Termahal Bangsa’ untuk menyambut calon mahasiswa baru 2003. Isu ini sempat menjadi isu nasional bersama PT BHMN lain.

Juli 2003 - Aksi 1500 massa BEM Bandung Raya menuntut turunnya Mega-Hamzah. Peluncuran “Selamatkan Indonesia” oleh KM ITB.

Agustus 2003- OSKM diketuai oleh Anwar Rustanto (HMM’00). Pada acara penutupan terjadi kericuhan antara panitia dengan swasta akibat insiden mengenai lagu kampus.

Desember 2003 - pembentukan Satuan Tugas Penyikapan Pemilu RI 2004 yang diketuai oleh Otep Kurnia (MA’99).

Februari 2004 - ITB Fair diadakan pertama kalinya di kampus ITB dengan tujuan memasyarakatkan teknologi. Aksi menolak Dialog Calon Presiden oleh PSIK yang mengundang Prabowo Subianto. Aksi ini dilakukan Kabinet bersama HMD.

Program Desa Binaan sebagai bentuk Pengabdian Masyarakat KM ITB.

Maret 2004 - Pemilu KM ITB tercatat sebagai Pemilu dengan kandidat tersedikit yaitu Anas Hanafiah (EL’00) dan Oskar Pariang Pakpahan (GM’00). Sempat terjadi kericuhan akibat hilangnya dua kotak suara. Anas memenangkan pemilu dan menjadi Presiden keenam.

April 2004 - Aksi pembakaran ban oleh Kabinet bersama Satgas Pemilu KM ITB akibat pengambilalihan acara ‘Kupas Tuntas’ Capres RI Amien Rais oleh Rektorat. Kabinet juga mengadakan aksi menolak kedatangan Siswono Yudohusodo karena dianggap sebagai bagian dari rezim Orde Baru.

Juli 2004 - Aksi menolak hasil Pemilu 2004 akibat banyaknya indikasi kecurangan-kecurangan dalam pemilu. Bersamaan dengan aksi tersebut, Student Center diratakan dengan tanah untuk diganti dengan Campus Center.

Agustus 2004 - OSKM kali ini diketuai Goris Mustaqim (SI’01). Pada saat acara OHU, beberapa mahasiswa melakukan aksi pembakaran Jas Almamater dan bendera KM ITB sebagai bentuk keprihatinan terhadap matinya dunia kemahasiswaan. Aksi ini ternyata berbuntut panjang sehingga disepakati akan membentuk Forum Rembug Mahasiwa. Forum ini menyepakati bahwa Kabinet dan Kongres harus memperbaiki kinerjanya, adanya kaderisasi berjenjang, dan Himpunan akan mengirim senator.

September 2004 - Terdapat beberapa selebaran yang bertuliskan mengenai permohonan maaf seseorang yang dianggap melakukan penghinaan agama. Pada bulan ini juga muncul insiden Class Aksutik ‘A Mild’ yang menghadirkan Marcell dan Dygta. KM ITB menyatakan menolak acara tersebut selain tidak jelas manfaatnya bagi mahasiswa, acara ini juga menggunakan sponsor rokok.

Oktober 2004 - KM ITB menginisiasi sebuah acara besar bertajuk ‘Gema Nusa’ (Gerakan Membangun Nurani Bangsa) di lapangan silang Monas dengan menghadirkan Presiden RI terpilih Susilo Bambang Yudhoyono.

10 Desember 2004 - Kedatangan Dr. Anwar Ibrahim untuk mengisi seminar “Perkembangan Demokratisasi Di Asia” disambut hangat mahasiswa ITB.

31 Desember 2004 - Aksi peduli bencana tsunami Aceh bersama BEM Unpad. Aksi ini diadakan saat pergantian tahun 2004 ke 2005.

Januari 2005 - Pengiriman relawan ke Aceh.

Februari 2005 - Aksi penolakan kenaikan BBM, KM ITB mengadakan aksi dengan motor sampai ke Lapangan Tegallega. Penolakan kenaikan harga BBM ini juga diikuti oleh aksi mogok makan oleh Sandra, Wira, Agus, dan Ramses di gerbang Selatan ITB.

Terlaksananya OS Gabungan yang diketuai Fitrah Dinata (SI’02).

Maret 2005 - Olimpiade ke-III KM ITB dimenangkan oleh IMG.

April 2005 - Muhammad Syaiful Anam (EL’01) terpilih sebagai Presiden ketujuh. Pemilu kali ini sebenarnya diikuti tiga kandidat yaitu Anam, Wiyono (TA’01) dan Ramses (TG’01) namun Ramses didiskualifikasi oleh Panitia.

21 Mei 2005 - Launching gerakan ‘Kampus Cerdas’ untuk mengurangi budaya mencontek di mahasiswa ITB.

Juni 2005 - Fitrah Dinata terpilih sebagai Ketua OSKM 2005. Rektorat menolak nama OSKM dan mengganti dengan nama PSAK (Pengenalan Satuan Akademik dan Kemahasiswaan).

17 Agustus 2005 - tepat pada saat peringatan 60 tahun Indonesia Merdeka, KM ITB mengadakan aksi keprihatinan mengenai tingginya jumlah mahasiwa yang di-DO setiap awal tahun akademik. Hal ini menunjukkan belum beresnya sistem pendidikan di ITB.

September 2005 - Keluar surat edaran Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan mengenai pelarangan kaderisasi bagi 2005 yang disikapi beragam oleh himpunan-himpunan. Saat itu juga KM ITB menggulirkan isu tolak kenaikan BBM yang rencananya dilakukan pada tanggal 1 Oktober 2005.

1 Januari 2006 - ART ITB disahkan oleh MWA. Poin kontroversial dalam ART ini adalah adanya pengaturan mengenai struktur baru kemahasiswaan sebagai implikasi perubahan sistem di ITB. KM ITB mengeluarkan surat menyatakan menolak implementasi ART ITB yang merugikan mahasiswa.

Februari 2006 - Program Keroyok Kampus oleh Presiden Anam, saat itu kampus ITB diramaikan oleh acara-acara KM seperti Bedah Buku ‘Confessions of an Economic Hitman’, Pekan Baca Tulis, SIMS, ITB Fair, Pesta Rakyat, dll.

Maret 2006 - Pemilu kali ini diikuti oleh enam kandidat yaitu Dwi Arianto Nugroho (TK’02), Andi M. Adiwiarta (GM’02), Syahfitri (KI’02), Hendrajaya (IF’02), Indira (IL’02), dan Kisko (FI’03). Sempat terjadi kericuhan karena adanya kesalahan teknis Panpel dan kandidat menganggap panitia tidak konsisten dalam menerapkan aturan pemilu. Semua kandidat mengundurkan diri kecuali Dwi dan Syahfitri. Hampir semua Himpunan menyatakan pemilu gagal. Pemilu akhirnya diulang dan diikuti oleh Dwi, Syahfitri, Andi, dan Jaya, serta calon baru M. Luthfi (FT’03).

April 2006 - Dwi Arianto Nugroho memenangkan pemilu dan menjadi Presiden kedelapan.

Mei 2006 - KM ITB menginisiasi gerakan peduli sampah Kota Bandung. Di akhir bulan juga KM ITB mengirim tim relawan bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Juni 2006 - Zam Zam Badruzaman (HIMAFI’03) terpilih sebagai Ketua OSKM 2006.

20-21 Agustus 2006 - Kontroversi soal legalitas OSKM 2006 berakhir dengan terlaksananya OSKM 2006 hanya dalam dua hari. Peserta OSKM 2006 adalah peserta dengan jumlah terkecil sepanjang sejarah, 136 orang. OSKM kemudian ditutup dengan aksi masuk kampus dengan peserta ratusan mahasiswa ITB.

November 2006 - Seminar Nasional yang diisi oleh Presiden RI ke-3 BJ Habibie menarik perhatian mahasiswa dan masyarakat Bandung.

Januari 2007 - Rangkaian Seminar dan Workshop “Sekantor” atau Sekolah Anti Korupsi diakhiri dengan perayaan ulang tahun KM ITB.

Februari 2007 - Olimpiade ke-IV menghasilkan MTI sebagai juara umum.

Maret 2007 - Pemilu KM ke-8 menghasilkan Zulkaida Akbar (FI’03) sebagai Presiden, mengalahkan Army Alghifari (MS’04).

7 April 2007 - Kedatangan Wapres Jusuf Kalla yang mengakibatkan tertutupnya kampus untuk mahasiswa dan dosen. Juni 2007 - Kasus kecelakaan motor pasca syukuran Kaderisasi KMSR 2006 mengakibatkan turunnya surat ancaman skorsing bagi Presiden KMSR, Ketua Kaderisasi, dan Ketua Angkatan 2006. Selain itu juga ada ancaman pembekuan KMSR. Kabinet bersama himpunan-himpunan memutuskan untuk menolak sanksi tersebut dan melakukan aksi massa di gedung Rektorat.

Agustus-September 2007 - Rangkaian acara Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2007 yang diketuai Agung Thaufika (HIMATIKA’04) sukses dalam melakukan pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru 2007.

16 November 2007 - Aksi penolakan terhadap alumni yang dianggap mencoreng nama almamater oleh Gabungan Aksi Mahasiswa (GAM) ITB yang sesuai dengan momentum Kongres Ikatan Alumni ITB dan terseretnya nama Laksamana Sukardi, Ketua Umum IA Pusat sebagai tersangka kasus korupsi di Pertamina.

[ Tugas ] Resume OSKM 24 Agustus 2013 - Zakaria S. Laksmana

Tak seperti hari-hari sebelumnya, hari terakhir OSKM 2013 diiringi dengan rumor akan adanya 'kejutan' besar yang telah tersebar di social media malam sebelumnya. Sesuai instruksi, para mahasiswa baru pun berkumpul di Lapangan Sipil pukul 6:20, yang dilanjutkan dengan mobilisasi untuk mentoring agama sesuai keyakinan masing-masing. Materi yang diberikan antar agama masih dalam satu lingkup : visi kebangsaan berdasarkan Ketuhanan. Memang, seorang pemimpin yang baik harus menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan agar amanah.

Acara dilanjutkan dengan mobilisasi mahasiswa baru menuju Taman Ganesha - tak jauh dari gedung Institut Teknologi Bandung. Serangkaian materi pun diberikan oleh para taplok, antara lain:

♥ Pentingnya Kolaborasi;

♥ Wawasan Kebangsaan;

♥ Urgensi Kemahasiswaan, dan;

♥ Sekilas KM-ITB

Khusus untuk dua materi terakhir, Kresno Adi - dari Arsitektur ITB - turut membantu menyampaikan materi dengan gayanya yang fresh dan menghibur. Dalam materi pertama ditekankan pentingnya mencari win-win solution dalam conflict management dengan musyawarah, demi menggapai kolaborasi yang ideal. Kolaborasi juga baiknya didasarkan pada kearifan konvensional, yang mencakup hubungan manusia dengan lingkungan, manusia, dan Tuhan - sejalan dengan slogan OSKM 2013.

Wawasan kebangsaan juga perlu untuk ditanamkan kepada para mahasiswa baru. Sebagai putra-putri calon pemimpin masa depan, para mahasiswa baru harus mempunyai visi kebangsaan - visi untuk memperbaiki masalah-masalah bangsa. Identitas bangsa harus dilestarikan dan dipegang teguh sebagai wujud kecintaan kepada Tanah Air, sembari bercermin pada realitas bangsa. Pada akhirnya, mahasiswa ITB tetap berpegang pada prinsip 'tuntutlah ilmu hingga ke langit, namun kembalilah ke bumi untuk memakmurkan rakyat'.

Materi ketiga - Urgensi Kemahasiswaan - mencakup Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat) - Budaya Kampus, PoPoPe (Posisi, Potensi, dan Peran Mahasiswa), serta Arah Gerak Mahasiswa. Sebenarnya banyak intisari yang dapat diekstrak dari sesi ini, namun secara garis besar mahasiswa adalah perwakilan masyarakat yang membantu pemerintahan. Selain sebagai masyarakat sipil yang berpendidikan, mahasiswa juga mengemban peran sebagai agen perubahan (agent of change), bahan baku penempa ilmu (iron stock), penjaga nilai-nilai leluhur (guardian of value), serta teladan yang baik bagi masyarakat (role model).

Terakhir, sedikit disinggung mengenai struktur Keluarga Mahasiswa ITB - bagaimana Kabinet KM menjalankan tugas-tugas kemahasiswaan, membawahi 29 (+2) Himpunan dan 80 Unit, bertanggung jawab pada Kongres, dan dibantu oleh MWAWM dan Tim Beasiswa dalam tugas-tugasnya. Organigram yang dijelaskan taplok cukup intuitif, dilengkapi dengan penjelasan mengenai jalur penyampaian aspirasi bagi para mahasiswa.

Masih di Lapangan Ganesha, acara dilanjutkan dengan Shalat Zuhur secara individual dan sedikit ice breaking sembari menunggu instruksi lanjutan dari panitia. Setelah ada instruksi, para taplok pun membiming kami untuk acara observasi - kebetulan, kelompok kami ditugaskan di sekitar wilayah Cihampelas. Laporan lebih lanjut mengenai observasi kami tidak akan saya tulis kembali di sini, agar tidak redundan - bagi yang tertarik membacanya, Anda dapat menelisik ke belakang satu entri tepat sebelum entri ini.

Peserta pun kembali diarahkan untuk break Shalat Ashar sesudahnya. Sebagai seorang pengidap VSD sejak lahir (Ventricular Septal Defect - penyakit jantung bawaan), saya dan mahasiswa-mahasiswa beratribut pita merah (memiliki riwayat kesehatan) lainnya pun dipisahkan dari barisan, dan digiring menuju lapangan dekat gedung Penerbit ITB. Sempat kami bertanya apa maksud yang tersirat dibalik ini semua - rupanya kami dipisahkan karena aktivitas selanjutnya membutuhkan kesehatan prima. Langit semakin senja, dan sempat terpotret oleh saya sebuah momen gradasi warna langit yang menyejukkan mata:



(:


Gemuruh menggelegar dari kejauhan. Saya tahu, closing OSKM 2013 sudah dimulai. Namun, apa daya, korps pita merah terpaksa mengikuti komando untuk mengikuti mobilisasi paling akhir - tak bisa dipungkiri memang, keselamatan diutamakan. Acara pun sudah berlangung setengah jalan ketika saya dan kawan-kawan sesama pita merah sampai di lokasi. Saya hanya sempat melihat sedikit cuplikan atraksi, beberapa kata sambutan, hingga pada akhirnya acara ditutup dan para mahasiswa baru dipulangkan ke hunian masing-masing.

Harus saya akui memang, OSKM 2013 jauh lebih menyenangkan dan berkesan dibandingkan dengan yang saya pertama kali bayangkan. Saya lumayan tercengang (bahkan hingga saat ini) mengingat bagaimana OSKM ITB sangat efektif dalam membentuk karakter dengan cara-cara yang positif dan tidak memberatkan. Jujur saya pribadi memiliki rekan dari STEI angkatan 2012 yang saya kenal dari internet, dan ia berujar 'Indonesian should really reconsider the meaning of "orientation week"' - dan ya, menurut saya pribadi, OSKM 2013 kali ini layak untuk menjadi percontohan bagi institusi-institusi pendidikan lainnya mengenai bagaimana seharusnya masa orientasi dilakukan.

- Zakaria S. Laksmana, FTTM

Sabtu, 24 Agustus 2013

[ Tugas Kelompok ] Observasi OSKM - Infrastruktur dan Lalu Lintas Cihampelas, Dulu dan Sekarang

wip Done!

Sebagai sebuah acara kemahasiswaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, OSKM ITB 2013 tak hanya membekali para mahasiswa baru dengan materi-materi secara teori, namun juga secara praktek langsung di lapangan. Program observasi lingkungan yang berbasis pada nilai-nilai PESTEL (politics, economy, science, technology, environment, legal) ini merupakan salah satu bukti nyata bagaimana OSKM menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk terus mengembangkan pola pikir kritis, kreatif, dan konstruktif.

Kelompok 112 bisa dibilang cukup beruntung ditugaskan untuk mengobservasi wilayah Cihampelas - sebuah wilayah wisata yang tak jauh dari kampus Ganesha. Jalan satu arah yang dipenuhi oleh hotel-hotel bertingkat dan factory outlet ini membentang dari atas hingga ke bawah, dengan megamall Cihampelas Walk sebagai magnet utama Cihampelas. Sempat terjadi sedikit miskomunikasi saat proses mobilisasi menggunakan angkot menuju Cihampelas - masalah yang dapat dengan cepat teratasi berkat koordinasi yang baik antar ketiga taplok.



Plang Penanda Jalan Cihampelas

Waktu yang semakin menipis membuat kami harus berpikir cepat dan cermat dalam menentukan tema. Pelataran sebuah showroom mobil pun menjadi tempat kami berteduh sejenak, mengingat matahari yang bersinar terik seiring waktu. Dalam kebuntuan, muncullah Nitis - perwakilan FTSL dalam kelompok kami - dengan sebuah gagasan brilian yang akan saya coba uraikan kata per kata berdasarkan memori:

'Trotoar kini semakin tergerus oleh pedagang-pedagang - bagaimana kalau kita tinjau saja pendapat para narasumber mengenai keadaan Cihampelas sekarang, terutama infrastrukturnya? '

Tak terdengar sedikit pun raungan keberatan dari anggota yang lain mengenai tema bersangkutan. Agar beban di pundak tiap-tiap individu tak terasa berat, kami pun membagi job desk menjadi tiga kelompok:

Kelompok I - Faiz dan kawan-kawan - bertugas mewawancarai pengguna jalan;

Kelompok II - Zaenab dan kawan-kawan - bertugas mewawancarai tukang parkir yang bertugas;

Kelompok III - Julio dan kawan-kawan - bertugas mewawancarai pengguna jalan;

Kelompok I mewawancarai dua narasumber yang kebetulan sedang berjalan di sekitar, yakni Johan (13 Tahun) dan Iqbal (27 Tahun). Transkrip teks yang mereka bawa kurang bisa terbaca, namun saya (penulis) setidaknya dapat menerjemahkan beberapa informasi: kedua orang tersebut adalah pengguna Jalan Cihampelas secara reguler setiap harinya. Johan merasa terganggu dengan banyaknya gangguan ketika menggunakan trotoar, dan dikuatkan dengan pendapat Iqbal yang menyatakan bahwa ia merasa kurang aman dan nyaman menggunakan trotoar akibat banyaknya pedagang yang memanfaatkan area trotoar untuk berbisnis.

Johan juga mengaku terganggu dengan banyaknya sampah dan senjangnya jarak antar tempat sampah dan tidak ratanya jalan. Sebenarnya Iqbal ingin menyampaikan 'curahan hati-'nya kepada pemerintah mengenai hal ini, namun urung karena proses yang menurutnya berbelit-belit hanya untuk menyampaikan sebuah kritik. Ia sangat berharap adanya pembatasan kendaraan yang lewat untuk mengurangi kemacetan, serta agar trotoar Jalan Cihampelas terbebas dari pedagang.

Beralih ke Kelompok II - mereka mewawancarai Asep, seorang tukang parkir yang sudah mencari nafkah selama 21 tahun di Jalan Cihampelas. Menurut beliau, pada tahun 1992 lalu lintas masih sangat kondusif - jauh berbeda 180 derajat apabila dibandingkan dengan kondisinya sekarang. Banyaknya motor yang melaju di Jalan Cihampelas memicu kemacetan, yang diperparah dengan sempitnya trotoar akibat digerus oleh pedagang kaki lima.

Tambahnya, dahulu pernah dilaksanakan operasi penertiban pedagang. Menurut kesaksiannya para pedagang dahulu tertib saat penertiban, namun lambat laun mulai kembali berjualan akibat tak adanya kontrol lebih lanjut. Beliau menyesalkan tak kunjung diperbesarnya Jalan Cihampelas, dan sangat berharap agar pemerintah turun tangan langsung memperbaiki masalah ini. Yang menarik, menurut pengakuan beliau ia tetap loyal bertugas di daerah Cihampelas berkat rasa sayangnya terhadap sebuah pohon tua. 'Hanya di Indonesia', ungkap Rico selaku salah satu anggota Kelompok II menanggapi kesaksian ini.

Terakhir, Kelompok III mewawancarai salah satu pedagang kaki lima yang menurut kesaksian tiga orang di atas telah mengganggu infrastruktur dan lalu lintas Cihampelas. Sempat kesulitan menemui pedagang yang kebanyakan sedang break makan siang, akhirnya mereka berhasil membujuk Erni - seorang pedagang kaos yang telah berbisnis selama 7 tahun. Beliau sendiri adalah salah satu kaum pendatang (asal Garut) yang mencoba untuk mengadu nasib di Kota Bandung.



Interaksi antar Nitis (Kelompok III) dan narasumber

Dengan logat Sundanya yang kental, beliau menceritakan perjalanannya mengikuti suami dan orang-orang luar Bandung lainnya yang mencoba untuk mencari nafkah di kota kembang ini. Menurutnya pasar di daerah Cihampelas sangat potensial, terutama pada masa-masa libur sekolah. Banyak pembeli yang berasal dari luar kota, tambahnya. Beliau lebih memilih untuk membuka kios di trotoar dibanding dengan membuka toko resmi karena menurutnya harga adminstrasi toko lebih mahal secara keseluruhan, belum lagi pajaknya.

Jam operasi beliau sendiri tidak tetap - kios dibuka pukul 09:00 dan tutup seperlunya. Beliau menambahkan semen pada trotoar secara swadaya untuk fondasi kios, dan tak merasa terganggu dengan kemacetan sekitar. Meskipun demikian, beliau mengaku agak risih dengan sempitnya trotoar. 'Banyak orang lewat, tapi mau gimana', ujar beliau. Bau sampah juga merupakan aspek lain yang membuat beliau kurang nyaman berjualan. Soal relokasi para pedagang (mirip dengan kasus Blok G Tanah Abang di Jakarta), apabila memang ada rencana demikian, beliau berkata ingin melihat prospeknya terlebih dahulu sebelum memutuskan tindakan bersama suami.

Bila diperhatikan, cukup beragam memang pengakuan dan keluhan para narasumber, namun bila ditarik garis lurus semua bermuara pada suatu hal : kurang nyamannya infrastruktur dan lalu lintas Cihampelas masa kini. Relokasi pedagang dapat menjadi solusi, namun tak akan mumpuni tanpa keseriusan eksekusi. Tentunya kami berharap masalah-masalah klise dapat teratasi, tanpa ada pihak yang merasa dikorbankan negeri.

- Kontributor : Seluruh Anggota Kelompok 112 | Penulis Artikel : Zakaria S. Laksmana -